Friday, November 23, 2018

Thursday, November 22, 2018

Kepribadian

Download

Konsep gangguan kepribadian

Silahkan donwload di link berikut
RESUME GANGGUAN KEPRIBADIAN
Definisi Gangguan Kepribadian
Gangguan kepribadian merupakan gangguan-gangguan yang banyak terjadi dalam masyarakat dan perilakunya akan memberikan dampak atau dinilai negatif oleh masyarakat, sehingga dapat menyebabkan kerusakan yang parah dalam kehidupan penderitanya. Gangguan ini merupakan kelompok gangguan yang sangat heterogen, diberi kode aksis II dalam DSM dan dianggap sebagai pola perilaku dan pengalaman internal yang bertahan lama, pervasif (pola perilaku klien yang relatif tidak ringan tetapi secara signifikan memengaruhi kehidupan klien sepanjang masa hidupnya), dan tidak fleksibel yang menyimpang dari ekspektasi budaya orang yang bersangkutan dan menyebabkan hendaya dalam keberfungsian sosial dan bekerja (Ichsan, 2014).
gangguan kepribadian adalah suatu varian dari sifat karakter tersebut di luar rentang yang ditemukan pada sebagian besar orang. Jika sifat kepribadian yang tidak fleksibel dan maladaptif dapat menyebabkan gangguan fungsional yang bermakna atau penderitaan subjektif, maka dimasukkan sebagai kelas gangguan kepribadian (Johar,Hartuti & Palupi, 2014).
Karateristik dan Tanda Gejala Gangguan Kepribadian
Menurut Krisnani, Nur, & Deraputri (2015) Individu dengan gangguan kepribadian sarat dengan berbagai pengalaman konflik dan ketidakstabilan dalam beberapa aspek dalam kehidupan mereka. Gejala secara umum gangguan kepribadian berdasarkan kriteria dalam setiap kategori yang ada. Secara umum gangguan ini klasifikasikan berdasarkan:
Pengalaman dan perilaku individu yang menyimpang dari sosial expectation. Penyimpangan pola tersebut pada satu atau lebih:
Cara berpikir (kognisi) termasuk perubahan persepsi dan interpretasi terhadap dirinya, orang lain dan waktu.
Afeksi (respon emosional terhadap terhadap diri sendiri, labil, intensitas dan cakupan).
Fungsi-fungsi interpersonal.
Kontrol terhadap impuls.
Gangguan-gangguan tersebut bersifat menetap dalam diri pribadi individu dan berpengaruh pada situasi sosial.
Gangguan kepribadian yang terbentuk berhubungan erat dengan pembentukan distress atau memburuknya hubungan sosial, permasalahan kerja atau fungsi-fungsi sosial penting lainnya.
Pola gangguan bersifat stabil dengan durasi lama dan gangguan tersebut dapat muncul dan memuncak menjelang memasuki dewasa dan tidak terbatas pada episode penyakit jiwa.
Gangguan pola kepribadian tidak disebabkan oleh efek-efek psikologis yang muncul yang disebabkan oleh kondisi medis seperti luka di kepala.
Ganguan kepribadian khas adalah suatu gangguan dalam konstitusi karakteriologis dan kecenderungan perilaku dari individu, biasanya meliputi bebarapa bidang dari kepribadian dan hampir selalu berhubungan dengan kekacauan pribadi dan sosial. Gangguan kepribadian tidak didiagnosa pada pada individu yang berusia dibawah 18 tahun, dengan pertimbangan bahwa pada usia dibawah 18 tahun sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan pada remaja awal, bila pun adanya gejala-gejala tertentu yang tampak, maka gejala tersebut menetap setidaknya 1 tahun lamanya, namun tidak semua gejala yang ada dapat didiagnosa sebagai bentuk gangguan kepribadian (Budiarti, Krisnani & Deraputri, 2015).
Faktor Penyebab
Menurut Ichsan (2014) faktor penyebab gangguan kepribadian antara lain:
Faktor Genetik
Salah satu buktinya berasal dari penelitian gangguan psikiatrik pada 15.000 pasangan kembar di Amerika Serikat. Diantara kembar monozigotik, angka kesesuaian untuk gangguan kepribadian adalah beberapa kali lebih tinggi dibandingkan kembar dizigotik. Selain itu menurut suatu penelitian, tentang penilaian multiple kepribadian dan temperamen, minat okupasional dan waktu luang, dan sikap social, kembar monozigotikyang dibesarkan terpisah adalah kira-kira sama dengan kembar monozigotik yang dibesarkan bersama-sama.
Faktor Temperamental
Faktor temperamental yang diidentifikasi pada masa anak-anak mungkin berhubungan dengan gangguan kepribadian pada masa dewasa. Contohnya, anak-anak yang secara temperamental ketakutan mungkin mengalami kepribadian menghindar.
Faktor Biologis 
Hormon. 
Orang yang menunjukkan sifat impulsive seringkali juga menunukkan peningkatan kadar testosterone, 17-estradiol dan estrone.
Neurotransmitter.
Penilaian sifat kepribadian dan system dopaminergik dan serotonergik, menyatakaan suatu fungsi mengaktivasi kesadarandari neurotransmitter tersebut. Meningkatkan kadaar serotonin dengan obat seretonergik tertentu seperti fluoxetine dapat menghasilkan perubahan dramatik pada beberapa karakteristik kepribadian. Serotonin menurunkan depresi, impulsivitas.
Elektrofisiologi. Perubahan konduktansi elektrik pada elektroensefalogram telah ditemukaan pada beberaapa pasien dengan gangguan kepribadian, paling sering pada tipe antisocial dan ambang, dimana ditemukan aktivitas gelombang lambat.
Faktor Psikoanalitik
Sigmund Freud menyatakan bahwa sifat kepribadian berhubungan dengan fiksasi pada salah satu stadium perkembangan psikoseksual. Fiksasi pada stadium anal, yaitu anak yang berlebihan atau kurang pada pemuasan anal dapat menimbulkan sifat keras kepala, kikir dan sangat teliti.
Interaksi antara faktor temperamen dengan faktor lingkungan 
Berdasarkan hasil observasi jangka panjang sejak bayi, Stella Chess dan Alexander Thomas mengemukakan teori Goodness of fit yaitu beberapa jenis gangguan kepribadian adalah hasil interaksi dari ketidakcocokan antara temperamen seorang anak dengan cara mendidik anak.
Faktor lingkungan dan budaya 
Lingkungan dan budaya yang bersifat keras, tidak toleran dan agresif sering menanamkan dasar-dasar paranoid dan antisosial.
Penggolongan Gangguan Kepribadian
Penggolongan gangguan kepribadian menurut ICD – 10 / PPDGJ – III   Pedoman Diagnosis Gangguan Kepribadian dalam Johar,Hartuti & Palupi (2014): 
Tidak berkaitan langsung dengan kerusakan / penyakit otak berat atau gangguan jiwa lain.
Memenuhi kriteria:
Disharmoni sikap & perilaku yangg cukup berat, biasanya meliputi beberapa bidang fungsi 
Pola perilaku abnormal berlangsung lama, jangka panjang, tidak terbatas pada episode gangguan jiwa
Bersifat pervasif & maladaptif 
Selalu muncul pada masa anak, remaja dan dewasa
Menyebabkan penderitaan pribadi
Biasanya berkaitan dengan pekerjaan & kinerja sosial
Tergantung budaya setempat.
Penggolongan gangguan Kepribadian Spesifik Menurut PPDGJ III dalam Maslim (2013) antara lain:
F60 Gangguan Kepribadian Spesifik
F60.0 Gangguan Kepribadian Paranoid
F60.1 Gangguan Kepribadian Schizoid
F60.2 Gangguan Kepribadian Disosial
F60.3 Gangguan Kepribadian Emotional tak stabil
F60.4 Gangguan Kepribadian Histrionik
F60.5 Gangguan Kepribadian Anankastik
F60.6 Gangguan Kepribadian Anxious (avoidant)
F60.7 Gangguan Kepribadian Dependent
F60.8 Gangguan kepribadian spesifik lainnya  
Gangguan Kepribadian  Menurut DSM-IV dalam Pieter, Janiwarti & Saragih (2011) antara lain:
Klaster A gambarannya aneh (odd), menyendiri (aloof), dan eksentrik (eccentric)      Klaster ini terdiri atas:
301.0 Gangguan Kepribadian Paranoid 
Sebuah ketidakpercayaan meluas dan kecurigaan orang lain sehingga motif mereka ditafsirkan sebagai jahat, dimulai dengan awal masa dewasa dan hadir dalam berbagai konteks. 
301.2 Gangguan Kepribadian Skizoid 
Sebuah pola meresap dari detasemen dari hubungan sosial & berbagai terbatas dalam pengaturan emosi antarpribadi, dimulai dengan awal masa dewasa dan hadir dalam berbagai konteks
301,22 Gangguan Kepribadian Skizotipal 
Sebuah pola defisit sosial dan interpersonal meresap yang ditandai dengan rasa tidak nyaman akut dengan, dan kapasitas dikurangi untuk, hubungan dekat serta oleh distorsi kognitif atau persepsi dan keeksentrikan perilaku, dimulai dengan awal masa dewasa dan hadir dalam berbagai konteks 
Klaster B gambarannya dramatik (dramatic), impulsif, dan tak menentu (erratic)      Klaster ini terdiri atas: 
301.7 Gangguan Kepribadian Antisosial (A) 
Ada pola meresap mengabaikan dan melanggar hak orang lain yang terjadi sejak usia 15 tahun.
301.83 Gangguan Kepribadian Ambang (Borderline) 
Sebuah pola meresap ketidakstabilan hubungan interpersonal, citra diri, dan mempengaruhi, dan sebuah awal impulsif ditandai dengan awal masa dewasa dan hadir dalam berbagai konteks.
301.50 Gangguan Kepribadian Histrionik 
Sebuah pola meresap emosionalitas yang berlebihan dan mencari perhatian, dimulai pada awal masa dewasa dan hadir dalam variey konteks.
301.81 Gangguan Kepribadian Narsisistik 
Sebuah pola meresap kebesaran (dalam khayalan atau perilaku), kebutuhan untuk dikagumi, dan kurangnya empati, dimulai dengan awal masa dewasa dan hadir dalam berbagai konteks.
Klaster C gambarannya cemas dan penuh ketakutan. Klaster ini sebagai berikut:
301.82 Gangguan Kepribadian Menghindar 
Sebuah pola meresap inhibisi sosial, perasaan tidak mampu, dan hipersensitivitas terhadap evaluasi negatif, dimulai dengan awal masa dewasa dan hadir dalam berbagai konteks.
301.6 Gangguan Kepribadian Dependen 
Sebuah kebutuhan yang luas dan berlebihan harus diambil perawatan yang mengarah ke perilaku tunduk dan menempel dan ketakutan pemisahan, dimulai awal masa dewasa & hadir dalam berbagai konteks .
301.4 Gangguan Kepribadian Obsesif-Kompulsif Sebuah pola meresap keasyikan dengan keteraturan, kesempurnaan, & mental dan kontrol interpersonal, dengan mengorbankan fleksibilitas, keterbukaan efisiensi &, dimulai dengan awal masa dewasa dan hadir dalam berbagai konteks.
Dampak Tidak Dilakukan Penanganan
Menurut Muhith (2015) individu yang tidak segera melakukan pengobatan, gangguan kepribadian dapat berdampak pada:
Isolasi sosial, kehilangan sahabat-sahabat terdekat yang disebabkan ketidak mampuan untuk menjalani hubungan yang sehat, rasa malu yang disebabkan putusnya hubungan dengan masyarakat.
Bunuh diri, melukai diri sendiri sering terjadi pada individu yang mengalami gangguan kepribadian ambang dan cluster.
Ketergantungan pada alkohol dan obat-obatan.
Depresi, kecemasan dan gangguan makan.
Perilaku berbahaya yang dapat merusak diri sendiri. Penderita gangguan kepribadian ambang berpotensi melakukan tindakan berbahaya, tanpa perhitungan seperti terlibat pada seks bebas beresiko atau terlibat dalam perjudian. Pada gangguan kepribadian dependen beresiko mengalami pelecehan seksual, emosional, atau kekerasan fisik karena individu ini hanya mengutamakan pada bertahan hubungan semata (bergantung pada orang tersebut).
Kekerasan atau bahkan pembunuhan. Perilaku agresif pada gangguan kepribadian paranoid dan antisosial.
Tindakan kriminal. Gangguan kepribadian antisosial mempunyai resiko lebih besar melakukan tindakan kriminal. Hal ini dapat mengakibatkan diri bersangkutan dipenjara.
Gangguan simtom yang ada dapat menjadi lebih buruk dikemudian hari bila tidak mendapatkan perawatan secara baik.
Penatalaksanaan
Menurut Candra, Harini & Sumirta (2017) untuk terapi psikologis sendiri ada ragam jenisnya. Beberapa metode terapi yang mungkin dipakai untuk menangani gangguan kepribadian adalah:
Terapi perilaku kognitif
Terapi ini bertujuan mengubah cara berpikir dan bertindak pasien ke arah yang positif. Terapi ini didasarkan kepada teori bahwa perilaku seseorang merupakan wujud dari cara berpikirnya. Artinya, jika pikiran orang tersebut negatif, maka perilakunya akan negatif, dan begitu pula sebaliknya.
Terapi psikodinamik 
Terapi ini bertujuan mengeksplorasi dan membenahi segala bentuk penyimpangan pasien yang telah ada sejak masa kanak-kanak. Kondisi semacam ini terbentuk akibat pengalaman-pengalaman yang negatif.
Terapi interpersonal
Terapi ini didasarkan kepada teori bahwa kesehatan mental seseorang sangat dipengaruhi oleh interaksi mereka dengan orang lain. Artinya jika interaksi tersebut bermasalah, maka gejala-gejala yang merupakan bagian dari gangguan kepribadian, seperti rasa cemas, ragu, dan tidak percaya diri, bisa terbentuk. Karena itulah tujuan utama terapi ini adalah membenahi segala macam masalah yang terjadi di dalam interaksi sosial pasien.
Farmakoterapi diberikan untuk terapi simptomatik dengan gejala permanen (jangka panjang) atau keadaan bagian (kecemasan akut, keresahan, bunuh diri, agitasi, krisis emosional). Kriteria pemberian farmakoterapi:
Depresi
Kecemasan akut dan agitasi
Anxietas
Emoosi tidak stabil 
Emosi datar
Disforia
Agresi
Impulsivitas
Psikotik
Menurut Muhith (2015) treatment untuk gangguan kepribadian merupakan kombinasi dari pengobatan dan psikoterapi menurut kelompok 
Klaster A
Paranoid
Pasien paranoid tidak bekerja baik dalam psikoterapi kelompok, karena itu ahli terapi harus berhadapan langsung dalam menghadapi pasien dan harus diingat bahwa kejujuran merupakan halyang sangat penting bagi pasien.
Farmakoterapi berguna dalam menghadapi agitasi dan kecemasan. Pada sebagian besar kasus obat anti anxietas seperti diazepam dapat digunakan.
Skizoid
Dalam lingkungan terapi kelompok, pasien gangguan kepribadiaan schizoid mungkin diam untuk jangka waktu yang lama, namun suatu waktu, mereka akan ikut terlibat. Pasien harus dilindungi dari serangan agresif anggota kelompok lain mengingat kecenderungan mereka akan ketenangan. Dengan berjalaannya waktu, anggota kelompok menjadi penting bagi pasien schizoid dan dapaat memberikan kontak sosial.
Dengan antipsikotik dosis kecil, anti depresan dan psikostimulan dapat digunakan dan efektif pada beberapa pasien.
Skizotipal
Pikiran yang aneh dan ganjil pada pasien gangguan kepribadian skizotipal harus ditangani dengan berhati-hati. Beberapa pasien terlibat dalam pemujaan, praktek religius yang aneh. Ahli terapi tidak boleh menertawakan aktivitas tersebut atau mengadili kepercayaan atau aktivitas mereka.
Medikasi antipsikotik mungkin berguna dalaam menghadapi gagasan mengenai diri sendiri, wahaam dan gejala lain dari gangguan dan dapaat digunakan bersama-sama psikoterapi. Penggunaan haloperidol dilaporkan memberikan hasil positif pada.
Klaster B
Antisosial
Psikoterapi – Jika pasien merasa berada diantara teman-teman sebayanya, tidak adanya motivasi mereka untuk berubah bisa menghilang, kemungkinan karena hal itulah kelompok yang menolong diri sendiri akan lebih berguna dibandingkan di penjara dalam menghilangkan gangguan. Tetapi ahli terapi harus menemukan suatu cara untuk menghadapi perilaku merusak pada pasien. Dan untuk mengatasi rasa takut pasien terhadap keintiman, ahli terapi harus mengagalkan usaha pasien untuk melarikan diri dari perjumpaan dengan orang lain.
Farmakoterapi digunakan untuk menghadaapi gejala yang diperkirakan akan timbul seperti kecemasan, penyerangan dan depresi.
Ambang
Pendekatan berorientasi realitas lebih efektif dibandingkan interpretasi bawah sadar secaraa mendalam. Terapi perilaku digunakan pada pasiem gangguan kepribadian ambang untuk mengendalikan impuls dan ledakan kemarahan dan untuk menurunkan kepekaan terhadaap kritik dan penolakan. Latihan keterampilan social, khususnya dengan video tape, membantu pasien untuk melihat bagaimana tindakan mereka mempengaruhi orang lain, hal ini untuk meningkatkan perilaku interpersonal mereka.
Antipsikotik dapat digunakan untuk mengendalikan kemarahan, permusuhan dan episode psikotik yang singkat. Antidepresan memperrbaiki mood yang terdepresi yang sering ditemukan pada pasien.
Gangguan Kepribadian Historinic
Pasien dengan gaangguan kepribadian histrionic seringkali tidak menyadari perasaan mereeka yang sesungguhnya. Psikoterapi berorientasi psikoanaliasis, baik dalam kelompok atau individual.
Farmaakoterapi dapaat ditaambaahkaan jikaa gejala adalah menjadi sasarannya, seperti penggunaan aantidepresan untuk depresi dan keluhan somatic, obat anti anxietas untuk kecemasan dan antipsikotik untuk derealisasi dan ilusi.
Gangguan Kepribadian Narsistik
Mengobati gangguan kepribadiaan naarsistik sukaar karena pasien harus meninggalkaan narsismenya jika ingin mendapatkan kemajuan Farmakoterapi – Lithium (eskalith) digunakaan pada pasien yang memiliki pergeseran mood sebagai bagian dari gambaran klinis. Dan karena rentan terhadap depresi, maka antidepresan juga dapat digunakan
Klaster 3
Menghindar/ Avoid
Ahli terapi mendorong pasien untuk ke luar ke dunia untuk melakukan apa yang dirasakan mereka memiliki resiko tinggi penghinaan, penolakan dan kegagalan. Tetapi ahli terapi harus berhati-hati saat memberikan tugas untuk berlatih keterampilan social yang baru di luar terapi, karena kegagalan dapat memperberat harga diri pasien yang telah buruk. Tetapi kelompok dapat membantu pasien mengerti efek kepekaan mereka terhadap penolakan pada diri mereka sendiri dan orang lain. Melatih ketegasan adalah bentuk terapi perilaku yang dapat mengajarkan pasien untuk mengekspresikan kebutuhan mereka secara terbuka dan untuk meningkatkan harga diri mereka.
Beberapa pasien tertolong oleh penghambat beta, seperti atenolol (Tenormin), untuk mengatasi hiperaktivitas sistem saraf otonomik, yang cenderung tinggi pada pasien dengan gangguan kepribadian menghindar, khususnya jika mereka menghadapi situasi yang menakutkan.
Dependen
Terapi yang digunakan yaitu melalui proses kognitif behavioral, dengan menciptakan kemandirian pada pasien, melatih ketegasan dan menumbuhkan rasa percaya diri. Benzodiazepine dan obat serotonergik dapat berguna.
Obsesif Kompulsif
Pasien gangguan kepribadian obsesif kompulsif seringkali tahu  bahwa mereka sakit dan mencari pengobatan ataas kemauaan sendiri. Asosiasi bebas dan terapi yang tidak terlalu mengarahkan, sangat dihargai oleh pasien gangguan ini. 
Clonazepam (klonopin) adalah suatu benzodiazepine dengan anti konvulsan, pemakaian obat ini untuk menurunkan gejala pada pasien dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif parah.

DAFTAR PUSTAKA
Candra, I.W., Harini, I.G.A., Sumirta, I.N. (2017). Psikologi Landasan Keilmuan Praktik Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: CV. Andi Offset
Ichsan, T. (2014). Studi Kasus: Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Aplikasi Diagnosis Gangguan Kepribadian, VIII(2), 69-83
Krisnani, H., Nur, G., & Deraputri, I. (2015). Gangguan kepribadian antisosial pada narapidana, 7(2), 1–79.
Maslim, R. (2013). Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III dan DSM-5. Jakarta: PT. Nuha Jaya
Muhith, A. (2015). Pendidikan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: CV. Andi Offset
Pieter,H.Z., Janiwarti,B., Saragih,M. (2011). Pengantar Psikopatologi Untuk keperawatan. Jakarta: Kencana.

Porfitrin

Poerfirin dan heme Download